Analisis Terukur dan Tak terukur

ANALISIS TERUKUR

1. KDB

kdb

KDB merupakan perbandingan antara luas lantai dasar bangunan dengan luas semua lahan yang dimiliki (termasuk luas bangunan). Nilai KDB di suatu kawasan menentukan berapa persen luas bangunan di suatu kawasan yang boleh dibangun. KDB suatu kawasan ditentukan dengan tujuan untuk mengendalikan tataguna lahan sehingga ketersediaan ruang terbuka tetap terjaga untuk membantu penyerapan air hujan ke tanah. Berikut langkah-langkah menghitung KDB di suatu kawasan:

1

2

3

4

5

 

ANALISIS TAK TERUKUR

Kriteria tak terukur adalah kriteria yang tidak dapat diukur secara kuantitatif, tetapi dapat memberi persepsi yang sama bagi pengamat yang melihatnya. Oleh karena itu, kriteria tak terukur lebih menekankan pada aspek kualitatif di lapangan. Menurut Hamid Shirvani (1985), kriteria tak terukur terdiri dari:

1.       Acces (Pencapaian)

Pencapaian dapat ditunjukkan dari kemudahan, kenyamanan, dan keamanan dalam mencapai tujuan. Maka dari itu, hal ini juga terkait dengan lokasi, sirkulasi, kelengkapan sarana dan prasarana, pengamanan, dan lainnya. Kemudahan dalam mencapai tujuan berarti perlu memperhatikan sejauh mana kemampuan orang menuju kesuatu tempat. Sedangkan kenyaman lebih menekannkan pada kualitas lingkungan kota, seperti meningkatkan kualitas trotoar dan mengakomodasikan pola jalur pedestrian yang dilengkapi dengan perabot jalan, tanam-tanaman, disain jalan yang terlindungi dari cuaca maupun terhindar dari pantulan sinar matahari (silau), atau memiliki ciri tersendiri. Faktor penting yang harus diperhatikan dalam hal keamanan adalah kejelasan pintu masuk atau arah fasilitas penting, sehingga orang akan mengetahui kemana dan apa yang akan dilakukan.

2.       Compatibility (Kecocokan)

Compatibility merupakan kecocokan tata letak dengan topografi, bentuk dan massa bangunan, dan skala. Compatibility terfokus pada estetika dan arsitektural. Disamping itu, aspek lain yang harus diperhatikan adalah sejarah, budaya, dan komponen yang cocok dengan nilai bangunan.

3.       Views (Pemandangan)

Views merupakan kejelasan antara orientasi manusia terhadap massa bangunan yang dapat ditunjukan oleh adanya suatu landmark yang dapat menjadi ciri khas atau sesuatu yang menarik pada kawasan tertentu. Views mengandung unsur estetika di dalamnya, sehingga dapat menimbulkan kesan menarik bagi pengamat dan memberikan kejelasan bentuk dan massa bangunan yang menggambarkan ciri khas suatu kawasan tersebut bagi pengamatnya. Penilaian estetika dapat dilihat dari skala dan pola bangunan, penggunaan warna, tekstur, tinggi, besaran dan bentuk dari objek yang diamati.

4.      Identity (Identitas)

Identity merupakan suatu ciri yang dapat dikenali oleh pengamat (citra). Elemen ini dapat dikenali melalui landmark dari suatu kawasan yang dapat mencirikan identitas dari kawasan tersebut.

5.       Sense (Rasa)

Sense adalah suasana yang ditimbulkan masih berhubungan dengan aspek budaya. Kriteria ini dapat dicapai dengan disain bentuk yang khusus atau suatu kegiatan yanag dapat menyentuh hati masyarakat, merupakan rangkaian ruang yang memiliki fungsi erat, dan berkaitan dnegan kegiatan sosial maupun proses alami.

6.      Livability (Kehidupan)

Merupakan kenyamanan untuk tinggal di dalamnya bagi banyak orang yang masuk di dalamnya. Untuk mengetahui tingkat kenyamanan tinngal di dalamnya, dibutuhkan indikator kenyamanan agar memiliki persepsi yang sama.

Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: