Elemen Citra Kota

Elemen Citra Kota

Zahnd (1999: 154) menyatakan bahwa teori mengenai citra place sering disebut sebagai mileston atau suatu teori penting dalam perancangan kota. Sejak tahun 1960-an, teori citra kota mengarahkan pandangan perancangan kota kearah yang memperhatikan pikiran terhadap kota dari orang yang hidup di dalamnya. Teori-teori berikutnya sangat dipengaruhi oleh teori tokoh yang diformulasikan oleh Kevin Lynch, seorang tokoh peneliti kota. Risetnya didasarkan pada citra mental jumlah penduduk dari kota tersebut. Dalam risetnya, ia menemukan betapa pentingnya citra mental itu karena citra yang jelas akan memberikan banyak  hal yang sangat penting bagi masyarakatnya, seperti kemampuan untuk berorientasi dengan mudah dan cepat disertai perasaan nyaman karena tidak tersesat, identitas yang kuat terhadap suatu tempat, dan keselarasan hubungan dengan tempat-tempat yang lain. Citra kota dapat didefinisikan sebagai sebuah citra kota atau gambaran mental dari sebuah kota sesuai dengan rata-rata pandangan masyarakat.   Citra kota terdiri dari lima elemen, yaitu: (Zahnd, 1999: 157)

a. Path

Path

Path

 

 

Path merupakan elemen yang paling penting dalam citra kota. Path merupakan jalur yang menghubungkan satu titik dengan titik yang lain. Path adalah rute-rute sirkulasi yang biasanya digunakan orang untuk melakukan pergerakan secara umum yakni sungai, jembatan, jalan darat, trotoar, dan sebagainya. Panjang dan lebar dari suatu path menentukan hirarki dari path tersebut. Dilihat dari aktivitasnya, path dibedakan menjadi tiga jenis yaitu occasionally path (sering dilalui banyak orang), potentially path, dan customarily path (jarang dilalui orang).

 

b. Edge (tepian)

edge

Edge merupakan pengakhiran suatu kawasan/ district, bisa berupa sungai, jalan, kawasan penyangga, pantai, rel kereta api, dan sebagainya. Edge lebih bersifat sebagai referensi daripada elemen sumbu yang bersifat koordinasi (linkage). Edge memiliki identitas yang lebih baik jika kontinuitas tampak jelas batasnya. Edge berada pada batas antara dua kawasan tertentu dan dapat berfungsi sebagai pembatas maupun penyatu. Edge bersifat sebagai pembatas apabila menghalangi dua kawasan, misalnya sungai, tembok. Edge dapat juga bersifat sebagai penyatu, misalnya jalan, kawasan penyangga, dan sebagainya.

 

c. District (kawasan)

district

Sebuah kawasan (district) memiliki ciri khas yang mirip (bentuk, pola, dan wujudnya) dan khas dalam batasnya, dimana orang harus mengakhiri atau memulainya. District dalam kota dapat dapat dilihat sebagai referensi interior maupun eksterior. District mempunyai identitas yang lebih baik jika batasnya dibentuk dengan jelas tampilannya dan dapat dilihat homogen, serta sifat dan posisinya jelas (introver/ekstrover atau berdiri sendiri atau dikaitkan dengan yang lain).

 

d. Node

node

 

Node merupakan simpul atau lingkaran daerah strategis dimana arah atau aktivitasnya saling bertemu dan dapat diubah kearah atau aktivitas lain, misalnya persimpangan lalu lintas, stasiun, lapangan terbang, jembatan, kota secara keseluruhan dalam skala makro besar, pasar, taman, square, dan sebagaainya. Node adalah satu tempat dimana orang mempunyai perasaan “masuk” dan “keluar” dalam tempat yang sama. Node mempunyai identitas yang lebih baik jika tempatnya memiliki bentuk yang jelas (lebih mudah diganti), serta tampilan berbeda dari lingkungan fungsi atau bentuk.

 

e. Landmark

landmark

Landmark merupakan titik referensi seperti elemen node, tetapi orang tidak masuk ke dalamnya karena bisa dilihat dari luar letaknya. Landmark adalah elemen eksternal dan merupakan bentuk visual yang menonjol dari kota, misalnya gunung atau bukit, gedung tinggi, menara, tanda tinggi, tempat ibadah, pohon tingi, dan sebagainya. Beberapa landmark letaknya dekat, sedangkan yang lain jauh sampai di luar kota. Landmark juga mempunyai arti di daerah kecil dan dapat dilihat hanya di daerah itu, sedangkan landmark lain mempunyai arti untuk keseluruhan kota dan bisa dilihat dari mana-mana. Landmark adalah elemen penting dari bentuk kota karena membantu orang untuk mengorientasikan diri di dalam kota dan membantu orang mengenali suatu daerah landmark juga mempunyai identitas yang lebih baik jika bentunya jelas dan unik dalam lingkungannya, dan ada sekuens dari beberapa landmark (merasa nyaman dalam orientasi), serta ada perbedaan skala masing-masing.

Categories: Uncategorized | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: